oleh

Timnas Indonesia dipaksa menyerah saat tampil gagah dalam All England

Padahal selain mengikuti uji PCR di Birmingham, anggota timnas yang berangkat juga sudah menjalani dua kali suntik vaksin di Tanah Air.

Kecurigaan juga menyeruak setelah ada anggapan Indonesia sengaja disingkirkan agar tidak bisa menyabet gelar juara satu pun di Birmingham melalui aksi diskriminatif.

Penilaian itu sendiri didasarkan kepadsa hasil pertandingan hari pertama sekaligus terakhir timnas ketika dua ganda putra Indonesia mengalahkan wakil Inggris yaitu Matthew Clare/Ethan Van Leeuwen yang dikalahkan Minions, dan Ben Lane/Sean Vendy yang ditaklukkan The Daddies.

Pada laga Hendra/Ahsan melawan Lane/vendy, salah seorang hakim garis diketahui berasal dari Inggris, padahal ketentuan BWF mengharuskan  hal itu tidak dibolehkan.

Saat match point gim terakhir, hakim garis tersebut sempat memberi peringatan kepada Ahsan yang dibalas dengan protes karena pebulu tangkis asal Palembang itu merasa tidak melakukan pelanggaran.

Namun yang fatal adalah keputusan BWF yang tidak menarik atlet tunggal putri Turki, Neslihan Yigit dan pelatihnya, dari turnamen. Padahal mereka juga satu pesawat bersama Skuad Merah Putih saat terbang dari Istanbul ke Birmingham.

Meski akhirnya Yigit juga ditarik BWF dari All England pada Kamis, keputusan itu terlambat dan tidak sportif. Belakangan Turki juga mengungkapkan ketidakpuasannya atas langkah terhadap Yigit itu.

Mencari solusi

Indonesia pantas kecewa karena akhirnya keputusan itu mutlak.  Skuad Merah Putih pun tak bisa melanjutkan turnamen.

PBSI berusaha berlapang dada menerima keputusan itu dan tidak menunjuk kesalahan kepada BWF dan panitia pelaksana yang sejatinya hanya menaati aturan NHS.

Namun perjuangan belum berhenti. PBSI bersama Kemenlu kini masih berusaha memulangkan ke-24 anggota timnas dari Inggris.

Berdasarkan aturan otoritas Inggris, setiap warga negara asing yang berada dalam penerbangan yang di dalamnya terdapat penumpang positif COVID-19, harus menjalani isolasi selama 10 hari.

Namun timnas yang sudah  kecewa harus dipaksa bersabar menunggu hingga masa isolasi selesai 27 Maret. Sementara All England berakhir pada 21 Maret.

Menurut Agung, hal itu hanya membuang-buang waktu dan lebih baik kembali ke Tanah Air, kembali berlatih di Pelatnas Cipayung.

Duta Besar RI untuk Inggris Desra Percaya pun sepemikiran dengan PBSI. Dia dan jajarannya masih berusaha memulangkan timnas bulu tangkis Indonesia dengan melobi NHS dan pihak terkait.

Indonesia juga menyayangkan sikap Inggris yang tidak konsisten. Dalam masa ketibaan peserta, mereka tidak memberlakukan protokol kesehatan dengan ketat, apalagi menerapkan gelembung sebagaimana yang dilakukan pada turnamen seri Asia di Thailand Open, Januari silam.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed