Palembang, jurnalsumatra.com – Bukit Seguntang atau Bukit Siguntang tidak bisa dilepaskan dari sejarah Sriwijaya dan memori kebudayaan Melayu di Nusantara. Bukit Siguntang atau kadang disebut juga Bukit Seguntang adalah sebuah bukit seluas 16 hektare di ketinggian 29-30 meter dari permukaan laut, terletak sekitar 3 kilometer dari tepian utara Sungai Musi, Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).
Di area situs Siguntang ditemukan beberapa benda purbakala bersifat Buddhis masa Kerajaan Sriwijaya (abad ke-6-13 Masehi) dan makam leluhur orang Palembang. Dari benda-benda purbakala yang ditemukan, menunjukkan bahwa Bukit Siguntang adalah salah satu kawasan pemujaan dan keagamaan kerajaan.
Hal ini terlihat dari arca Buddha bergaya Amarawati (abad ke-2-5 Masehi) yang ditemukan pada 1920-an. Arca berbahan granit setinggi 277 senti meter tersebut disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Di sana juga ditemukan fragmen arca Bodhisatwa, stupa, fragmen prasasti beraksara Pallawa, arca Kuweda, arca Buddha Wairocana.
Namun karena selama ini Bukit Seguntang mengalami berkali-kali pengrusakan atas nama pembangunan dan terakhir tahun 2018 lalu dengan pembangunan kolam air mancur dan makam-makam disekitarnya, maka kemungkinan ditemukan struktur bangunan di Bukit Seguntang sangat kecil.
Hal tersebut dikemukakan arkeolog dari Balai Arkeologi (Balar) Sumsel , Retno Purwati, dia memastikan kemungkinan masih di temukan struktur bangunan di Bukit Seguntang yang utuh peluangnya kecil, karena menurutnya pembangunan yang dilakukan di Bukit Seguntang sebelumnya diawali pengrusakan dengan eksavator dan penamanan pohon di Seguntang termasuk pembangunan infastruktur di Bukit Seguntang seperti pipa-pipa.
“ Kalau kita gali , bata lama pasti ketemu disini tapi pecahan semua di kedalaman 50 Cm, karena sudah terkelupas semua tanahnya,” katanya, ketika di temui di Bukit Seguntang saat mendampingi 5 mahasiswa UIN Raden Fatah , Palembang Prodi Sejarah Peradaban Islam (SPI) melakukan Praktek Penelitian Lapangan (PPL) di Bukit Seguntang, Kamis (4/3/2021).
Menurutnya Retno , luas areal Bukit Seguntang sampai ke Tanjung Rawo yang merupakan kaki Bukit Seguntang, malah di Tanjung Rawo pernah di temukan struktur stupa, malah dirinya mendapat informasi gedung Pascasarjana Universitas Sriwijaya (Unsri), di Bukit Besar saat pembangunannya itu pernah ditemukan bata-bata lama.
“ Luas lah iya dan itu memang wajar, kalau di Muara Jambi aja sebagai wiharanya Sriwijaya itu taruhlah 12 Km persegi, kalau ini sampai Tanjung Rawo terus sampai Padang Selasa berapa luas?,” kata Retno didampingi rekannya sesama arkeolog Balar Sumsel, Wahyu Rizky Andhifani.
Komentar