Wabah dan kesadaran ekologis
Secara alami, patogen ini memang berparasit ke hewan-hewan liar namun tak menutup kemungkinan menularkan ke manusia seperti yang ditemukan sebagai virus malaria melalui jalur nyamuk.
Namun seiring dengan membludaknya populasi manusia membuat hutan-hutan yang awalnya tempat hidup patogen mengalami pengikisan akibat berbagai ambisi manusia.
Rusaknya ekosistem hutan yang merupakan tempat hidup jutaan jaringan organisme dan spesies hewan serta tumbuhan, menjadikan patogen kehilangan habitat aslinya. Kondisi ini juga membawa patogen kian dekat dengan kehidupan manusia.
Peneliti muda dari Universitas Gajah Mada Arif Novianto dalam pengantarnya di buku Slavoj Zizek, Panik Pandemik, menjelaskan sebelum virus corona menghantui bumi, sudah bermunculan jenis virus baru atau bentuk mutasi baru dari patogen yang ada di hewan liar, yang kemudian menular ke manusia (Zoonosis).
Ia mencontohkan wabah Flu Spanyol pada 1918 yang berasal dari patogen unggas dan menewaskan 50 juta orang. Kemudian wabah Ebola pada 1976 yang berasal dari kelelawar buah. Wabah SARS di awal dekade 2000-an, wabah Flu Babi pada 2009, hingga MERS pada 2012.
Pun demikian seperti yang terjadi di Kalimantan pada 1997. Hutan di sana dibakar untuk membuka lahan perkebunan. Pohon-pohon buah mati akibat pembakaran tersebut. Hilangnya tempat penghidupan hewan liar memaksa kelelawar mencari makan di kebun yang dikelola manusia.
Tak lama berselang, banyak babi peliharaan yang jatuh sakit karena diketahui memakan buah-buahan yang jatuh setelah digigit kelelawar. Kondisi itu kemudian berdampak ke petani babi yang mengalami peradangan otak yang parah pada tahun 1999. Sebanyak 265 petani menderita sakit parah dan 105 orang meninggal.
Kasus ini kemudian diketahui sebagai virus Nipah pada manusia, yang sejak itu menyebabkan serangkaian wabah berulang di Asia Tenggara. Cerita ini juga ditulis dalam sebuah artikel karya Katarina Zimmer di National Geographic “Deforestation is leading to more infectious diseases in human” pada 2019.
Sementara itu, ahli biologi evolusioner dan filogeografer Institute for Global Studies Universitas Minnesota Rob Wallace dalam buku Matinya Epidemolog menyatakan seluruh dunia harus melakukan pembacaan ulang terhadap virus-virus yang terus berevolusi.
Ia menganggap dunia tak benar-benar mendalami dan mengatasi berbagai virus yang berkembang. Para otoritas dunia hanya bernafas lega saat virus menyatakan kekalahannya -diatasi melalui vaksinasi-, sementara waktu mengatakan virus sedang menyiapkan kekuatan terbaik untuk kembali melawan.
Yang mesti dilakukan adalah mengembalikan hutan pada fungsinya sebagai intervensi darurat mencegah virus menyebar lewat hewan/tumbuhan. Manusia mesti berhenti bersikap egois terhadap alam dengan eksploitasi membabi buta.
Manusia dan patogen pada dasarnya hidup berdampingan dan bersama-sama-sama mendiami bumi. Namun, ada sekat berupa jarak ruang yang memisahkan keduanya. Alam secara alami menempatkan patogen dan manusia pada ruang yang berbeda.
Akan tetapi, keseimbangan ekologis yang mulai terganggu membuat sekat di antara keduanya menjadi sirna dan hutan tak bisa lagi menjadi medium intervensi darurat dalam mencegah perpindahan virus.
Kesadaran ekologis harus terus dipupuk sebagai upaya untuk melestarikan alam. Kemunculan wabah bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, akan tetapi akibat dari pola hubungan manusia dengan alam semesta.
Wabah bukanlah musuh manusia. Musuh manusia yang utama adalah perilaku mereka yang memberikan ruang bagi wabah untuk hadir di kehidupan manusia melalui perusakan alam.(anjas)
Komentar