Mentok, Babel, jurnalsumatra.com – PT Timah Tbk membantu mengatasi permasalahan stunting atau kekerdilan di Desa Airputih, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, guna menekan angka stunting di desa itu yang kini masih mencapai 12,3 persen.
“Melalui program cegah dan tangani stunting (Canting) PT Timah ini kami harapkan bisa membantu mengatasi permasalahan yang ada di tengah masyarakat sekaligus menyiapkan generasi berkualitas,” kata Camat Mentok Sukandi di Mentok, Rabu.
Sukandi mewakili warga Desa Airputih memberikan apresiasi kepada perusahaan milik negara tersebut yang selama ini selalu hadir di tengah masyarakat dan membantu mengatasi berbagai permasalahan warga, khususnya di wilayah operasional perusahaan.
Menurut dia, program Canting Timah merupakan salah satu upaya nyata dari perusahaan dalam memperhatikan tumbuh kembang anak sekaligus menyiapkan generasi bangsa yang berkualitas dengan mencegah dan menangani stunting.
Program kepedulian perusahaan ini dilaksanakan unit CSR PT Timah bekerja sama dengan Pemerintah Desa Airputih dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat dengan melaksanakan musyawarah untuk menggelar kegiatan pencegahan stunting dengan melakukan intervensi ke rumah-rumah warga di desa setempat.
“Stunting merupakan gangguan tumbuh kembang anak yang disebabkan kekurangan asupan gizi, terserang infeksi, maupun stimulasi yang tak memadai. Untuk mengatasi permasalahan itu tim akan datang langsung ke rumah-rumah warga guna memastikan kondisi riil yang dihadapi masyarakat,” katanya.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat, Nurmala Anggraini menjelaskan angka stunting di Desa Airputih saat ini tertinggi di Kecamatan Mentok sehingga perlu gerakan bersama untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi.
“Kami berharap program seperti ini bisa berkelanjutan di desa itu dan PT Timah bisa meneruskan ke desa-desa lainnya yang juga angka stuntingnya tinggi,” kata Nurmala.
Ia mengatakan, kegiatan serupa juga telah dilaksanakan Dinkes Bangka Barat sejak 2019 dan berhasil menurunkan angka stunting di desa itu dari 15,27 persen menjadi 12,3 persen.
Menurut Kepala Puskesmas Mentok, Harianto, terjadinya kasus kekerdilan atau hambatan pertumbuhan timbul karena gizi buruk kronis, anak potensial terkena stunting dimulai dari 0 sampai kelahiran sembilan bulan, pada saat usia kehamilan diperlukan asupan gizi yang cukup.
“Kesadaran orang tua memperhatikan tumbuh kembang janin sampai anak lahir hingga usia anak dua tahun dan mempertahankannya pada usia selanjutnya perlu terus diperhatikan,” katanya.
Komentar